Bagaimana Persamaan Indra Pengecap dan Pencium?

Posted on

Content.id – Bagaimana Persamaan Indra Pengecap dan Pencium? Ketika kita mengecap makanan, ini merupakan campuran rasa dan bau (aroma). Ketika kamu makan, ada partikel makanan kecil yang mengalir ke atas ke dalam saluran pernapasan dari mulut bagian belakang.

Bau dari makanan memberi kontribusi pada rasa sederhana yang terdeteksi oleh lidah. Hal ini menjelaskan mengapa rasa makanan menjadi aneh ketika kita sakit selesma karena bagian dalam hidung menjadi bengkak dan oleh karena itu untuk sementara indra pembaunya tidak berfungsi.

Ketika kita makan makanan yang pedas, seperti kare atau cabai, rasa sakit tingan juga merupakan bagian dari ciri-ciri rasa. Bila tidak sedikit “membakar” mulut, membuat kepedasan, makanan ini sama sekali tidak akan terasa seperti kare atau cabai.

Bila kita kehilangan indra penciuman kita, hampir semua sensasi pengecapan juga akan hilang, artinya kita tidak akan dapat demikian menikmati rasa makanan kita.

Catatan fakta

Ketika kita bersin, ada awan berupa titik-titik lembut air yang disemprotkan dengan keras melewati mulut dan hidung di dalamnya terbawa serta jasad renik apa pun yang ada dalam paru-paru kamu. Begitulah cara selesma dan influenza menular.

Kerja Sama Hidung Dengan Lidah : Mengetahui Rasa Dari Aroma

Dikutip dari news.labsatu.com. Pernahkah kita melihat orang yang memilih mangga manis dari pedagang dengan cara mencium aromanya saja? Atau justru kita sendiri yang pernah melakukannya? Terlihat aneh memang jika kita bisa mengetahui rasa tanpa mencicipinya. Namun, hal ini bisa dilakukan oleh setiap orang yang fungsi indra pembau dan pengecapnya baik. Hidung dengan lidah memang indera yang saling berkaitan. Kaitan antara kedua indra tersebut dalam hal mendeteksi rasa melalui aroma. Bagaimana mekanismenya? Mari kita simak penjelasan berikut ini.

INDRA PEMBAU

Hidung merupakan organ fungsional indra pembau yakni menerima zat terlarut dalam udara atau air yang biasa disebut sebagai bau/aroma. Dengan adanya indra ini, kita dapat mengenali lingkungan sekitar melalui bau yang dihasilkan. Di dalam hidung, ada sel kemoreseptor yang dapat mendeteksi ribuan bau yang berbeda dengan cara menangkap lalu menyampaikannya kepada sel saraf di otak. Reseptor ini terdapat di langit-langit rongga hidung, lebih tepatnya pada bagian yang disebut sebagai epitel olfaktori. Epitel ini terhubung pada silia pembau dan saraf olfaktori. Maka dari itu, sel-sel penangkap bau pada silia segera meneruskan rangsangan atau sinyal bau ke saraf olfaktori untuk diteruskan ke otak sehingga kita bisa mengenali jenis bau yang kita hirup.

Kerja Sama Hidung Dengan Lidah : Mengetahui Rasa Dari Aroma

Anatomi hidung

INDRA PENGECAP

Lidah merupakan organ fungsional indra pengecap yang dapat menangkap rangsangan berupa senyawa yang larut dalam air. Pada lidah terdapat papila-papila yang tersebar di permukaannya. Papila ini mengandung kuncup-kuncup reseptor rasa yang peka terhadap stimulus senyawa kimia (kemoreseptor). Satu kuncup reseptor rasa memiliki 50-100 sel rasa yang mewakili 5 jenis rasa (asam, manis, asin, pahit, dan umami). Kuncup-kuncup inilah yang terhubung dengan serabut saraf di otak sehingga rasa yang ditangkap dapat dideteksi oleh otak. Sebagaimana ‘pimpinan’ di suatu perusahaan, otak sebagai pusat pengatur segala respons tubuh pun segera memerintahkan sel atau kelenjar terkait untuk menanggapi rangsangan tersebut. Secara otomatis, sel-sel atau kelenjar di dalam mulut meyesuaikan diri, membuat kesetimbangan ‘skenario’ dalam menyambut makanan yang masuk, misalnya dengan menghasilkan air liur yang lebih banyak untuk membantu proses penyerapan sari makanan di mulut.

Kerja Sama Hidung Dengan Lidah : Mengetahui Rasa Dari Aroma

Anatomi lidah

HUBUNGAN INDRA PEMBAU DAN INDRA PENGECAP

Indra pembau dan pengecap dapat saling bekerja sama. Rangsangan bau dari makanan mencapai rongga hidung dan diterima oleh reseptor olfaktori, lalu diteruskan ke pusat rasa dan bau di otak. Dari sinilah otak mulai memerintahkan berbagai sel dan kelenjar untuk mempersiapkan diri seolah akan ada makanan yang masuk ke dalam rongga mulut, walaupun pada kenyataannya tidak selalu demikian.

Otak yang telah mengenali bau, mengirimkan sinyal kepada reseptor di lidah tentang rasa yang cocok untuk bau tersebut, dan secara otomatis, kelenjar pun akan mempersiapkan diri, misalnya dengan menghasilkan cukup banyak air liur. Sebagai contoh, saat kita mencium aroma mangga muda, kita bisa menduga jika mangga tersebut asam. Otomatis, kelenjar saliva akan menghasilkan air liur lebih banyak. Ini pula yang terjadi saat kita menghirup aroma lezat dari makanan.

Kerja Sama Hidung Dengan Lidah : Mengetahui Rasa Dari Aroma

Mekanisme rangsangan bau dan rasa ke otak

Kerja sama seperti ini akan terganggu apabila indra pembau tidak berfungsi secara normal, seperti saat kita sedang menderita flu. Saat sakit flu, fungsi indra pembau akan terganggu sehingga aroma makanan yang sudah masuk ke dalam rongga mulut pun tidak terdeteksi oleh sensor saraf ke otak. Inilah yang membuat seolah makanan tidak memiliki rasa atau kehilangan rasa. Wajar saja jika pada saat itu nafsu makan pun menghilang.

Selain itu, kerja sama fungsi dari hidung dengan lidah sangat penting bagi keamanan kesehatan kita. Sebagai contoh, jika seandainya susu yang akan kita minum telah basi, kita bisa mendeteksinya terlebih dahulu dari aroma busuk atau asam yang muncul dari susu tersebut. Tentu kita tidak akan mencoba untuk meminumnya. Bayangkan jika fungsi indra tersebut tidak berjalan dengan baik, maka akan banyak makanan atau minuman yang telah rusak atau basi yang masuk ke dalam mulut kita. Maka dari itu, sepatutnya kita menjaga kesehatan panca indra dan bersyukur atas berfungsinya panca indra kita secara normal.

Sumber: ZERO.id

Salam