Apakah Virus Coron Penyebab COVID-19 dapat Ditularkan Melalui Udara?

Posted on
Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (COVID-19) 16 Maret 2020
Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (COVID-19) 16 Maret 2020

Apakah Virus Coron Penyebab COVID-19 dapat Ditularkan Melalui Udara? Tidak. Hingga saat ini penelitian menyebutkan bahwa virus penyebab COVID-19 ditularkan melalui kontak dengan tetesan kecil (droplet) dari saluran pernapasan.

Cara penularan utama penyakit Virus Corona COVID-19 ini adalah melalui tetesan kecil (droplet) yang dikeluarkan pada saat seseorang batuk atau bersin.

Saat ini WHO menilai bahwa risiko penularan dari seseorang yang tidak bergejala Virus Corona COVID-19 sama sekali sangat kecil kemungkinannya. Namun, banyak orang yang teridentifikasi Virus Corona COVID-19 hanya mengalami gejala ringan seperti batuk ringan, atau tidak mengeluh sakit, yang mungkin terjadi pada tahap awal penyakit.

IDI: Pasien Suspect di Bali, Negatif Virus Corona

Kabar mengenai adanya pasien diduga (suspect) terinfeksi virus corona yang dirawat di RSUP Sanglah Denpasar, Bali, telah diketahui oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Anggota PB IDI, Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, Sp.PD-KPTI, FACP, FINASIM, Ph.D yang merupakan ahli penyakit tropik dan infeksi mengaku, sudah mendengar kabar tersebut dua hari lalu, tepatnya Selasa (21/1/2020) sore.

Namun saat itu, kata dia, IDI baru mendapatkan informasi ada 2 pasien suspect virus corona di RSUP Sanglah.

“Jadi saya dihubungi, karena kami dari himpunan dokter tropik infeksi, jadi memang ada ahli-ahli khusus tropik infeksi, salah satu sejawat ini menangani 2 pasien secara berurutan di waktu yang berbeda,” ujar Dr. Erni di kantor Sekretariat IDI, Jakarta Pusat, Jumat (24/1/2020).

Pasien pertama yang dirawat di RSUP Sanglah, kata dr Emi, berasal dari Wuhan, tapi sebelumnya sempat ke Thailand sebelum kasus virus corona Thailand dilaporkan. “Lalu dia ke Bali, dia sakit pneumonia berat, usianya juga di atas 60,” cerita dr Emi.

Setelah dilakukan pemeriksaan dahak pasien tersebut, sampelnya kemudian dikirim ke Litbangkes di Jakarta dan hasilnya negatif. Namun, kata dr Emi, yang menjadi kekhawatiran adalah virus corona merupakan virus baru

Infografis virus Corona (coronavirus) dan gejalanya. (Shutterstock)
Infografis virus Corona (coronavirus) dan gejalanya. (Shutterstock)

Apalagi, lanjut dr Emi, penularannya tidak terlihat karena melalui udara (airborne disease).

“Beliau ini dengan istrinya sudah cek darah, udah dikonfirmasi pemeriksaannya ke litbangkes, itu tidak confirm alias negatif. Lalu apa yang harus dilakukan, karena waktu itu belum ada penjelasan dari kemenkes, tapi ya ini tatalaksana dengan infeksi airborne. Seperti biasa kalau ada penularan lewat udara apa sih tata laksananya,” ungkapnya panjang lebar.

Untuk yang suspect, sambung dr Emi, medis kemudian melakukan investigasi apakah pasien sudah bertemu dan kontak dengan orang terdekat, yang bisa dicurigai tertular virus corona, meski mereka belum merasakan sedikit pun gejalanya seperti batuk, bersin, pusing, sesak napas, dan demam, atau gejala pneumonia pada umumnya.

“Dicari orang sekelilingnya, itu yang sedang dilakukan. Jadi, sudah langsung dengan dinas kesehatan untuk PE (penyelidikan evidence based). Langsung dicari, bapak dalam 5 hari terakhir ke mana saja, ketemu siapa aja, beliau ini dicari kemudian dicek, biarpun belum sakit,” tutur dr Emi merinci.

Nah, untuk mencegah berkembang biak lebih besar, maka pasien suspect virus corona, sambung dia, juga harus diisolasi di ruang bertekanan negatif. Perawatan dilakukan khusus selama beberapa hari dan terus dipantau untuk dilakukan pengecekan.

“Kalau negatif di awal kapan harus diulang (tesnya). Sebenarnya kalau pakai teori secara umum harusnya enggak perlu diulang, tapi kita kan berbicara barang (virus) baru. makanya ada beberapa di WHO yang mau dikembangkan, nah di situ masalahnya,” tutup dr. Erni. *Suara.com