Apa Sisi Gelap Wanita Memiliki Payudara yang Besar?

Posted on
Apa Sisi Gelap Wanita Memiliki Payudara yang Besar
Apa Sisi Gelap Wanita Memiliki Payudara yang Besar

Sebuah pertanyaan menarik mengenai seorang wanita yang memiliki Payudara yang besar. Berikut dari wanita tersebut di quora.com yang cukup mendapat perhatian content.id

“Sisi gelap” berarti bagian “tidak enak”-nya ya?

Ok, saya rasa ukuran payudara saya cukup besar. Setidaknya di lingkaran pertemanan saya. Teman-teman dekat saya (sesama cewek) bahkan sering menjadikannya bahan candaan dan menjadikan ukuran payudara saya sebagai “benchmark”.

Beberapa jawaban dari pengguna lain sebenarnya sudah sangat menggambarkan bagaimana “sisi gelap” memiliki payudara besar. Saya hanya akan menambahkan versi saya saja.

Langsung saja, sisi gelap memiliki payudara besar versi saya:

  • Harus pandai dalam menahan emosi. Karena terkadang kalau bertemu dengan laki-laki kurang ajar dan tidak tau adab, biasanya sering menjadikan “aset” ini sebagai bahan candaan. You know lah.
  • Jadi sering curiga dengan cowok yang mendekati saya. Apakah dia benar-benar menyukai saya, atau memiliki “maksud lain”. Kalau ada cowok yang sedang mendekati saya dan obrolannya “nyerempet-nyerempet” membahas masalah “aset” saya yang besar itu, langsung saya abaikan.
  • Jadi buah bibir adalah hal biasa. Beberapa orang disekitar saya masih ada yang percaya bahwa “aset” besar artinya sering dipegang oleh lelaki. Please, Thanos. Musnahkan orang-orang dengan kepercayaan seperti itu.
  • Paling menonjol kalau foto dengan teman-teman cewek yang “aset”-nya kecil. Ini sering banget saya alami. Kebetulan kebanyakan teman-teman saya ukurannya kecil-kecil, jadi deh punya saya kelihatan lebih besar di foto.
  • Sering ditanya “gimana caranya biar bisa sebesar itu”. Demi apapun, saya juga tidak tahu. Kamu pikir saya bisa dengan sengaja membuatnya besar? Kalau bisa, saya sudah buka klinik dari dulu.
  • Males berdesakan di tempat umum. Kalau sedang ngantri dan antriannya panjang, saya paling males karena harus berdesak-desakan yang ujung-ujungnya akan ada saja mas-mas hidung belang yang curi-curi kesempatan.

Tapi rasanya tidak adil kalau yang dibahas hanya tidak enaknya saya. Walaupun kadang tidak enak, harus diakui bahwa memiliki payudara besar juga ada enaknya. Banyak malah.

Salah satunya, tentu saja adalah menjadi daya tarik sendiri. Tubuh kita jadi terlihat menarik. Well, siapa sih wanita di dunia ini yang tidak mau punya tubuh menarik? Payudara besar adalah salah satu dambaan hampir semua wanita. Tentu yang proporsional dengan ukuran tubuh ya.

Jawaban atas pertanyaan Sisi Gelap Wanita Memiliki Payudara yang Besar

1. Jawaban dengan akun Anonym

Sebelumnya maaf karena saya menjawabnya dengan anonim, saya hanya malu saja jika ada yang tau siapa saya. Dan maaf juga kalau jawabannya berantakan, karena ini jawaban pertama saya, selama ini saya hanya baca-baca dan upvote saja.

Saya saat ini 18 tahun, lulus SMA Mei 2019 kemarin. Mungkin memang benar ya, manusia tidak pernah bersyukur. Saya mempunyai payudara besar, dan sangat ingin memiliki payudara kecil, dan mungkin yang memiliki payudara kecil sangat ingin memiliki payudara besar. Mengapa? Karena saya benci dipandang ‘aneh’. Aneh yang bagaimana? Ya, orang-orang memandang saya menjadi lain dengan payudara saya yang besar. Sejak kelas 7 tepatnya, dari situ saya mulai merasa payudara saya besar dan mungkin saat itu tidak lazim untuk saya yang baru kelas 7 tapi payudara saya sudah besar. Bahkan sepupu saya pernah berkata “Eh beneran itu dada kamu, kenapa gede banget? Kamu kan masih kecil. Hati-hati loh.” Saat itu saya biasa saja, dan hanya menyangkal seadanya “keturunan”. Karena jujur saja saya tidak tahu mau menjawab apa saat itu. Karena bagi saya dada saya ya memang begitulah adanya.

Dan yang membuat saya malu adalah, ketika di sekolah. Anak lelaki sering memperhatikan saya, apalagi ketika pelajaran olahraga dan ketika pemanasan dibagian melompat atau lari, mereka sering kali mengejek saya atau diam-diam membicarakan saya. Entahlah, saya rasanya malu sekali. Rasanya gimana ya? Entahlah, campur aduk. Dan pada saat kelas 7 saya dan teman saya pernah mengikuti suatu lomba dance, dan intinya saat itu kelompok kami tidak menang. Dan entahlah ini benar atau tidak, yang jelas saya dengar dari teman saya yang lain bahwa salah satu dari teman saya yang sama-sama dalam kelompok dance itu berkata bahwa kekalahan kami karena payudara saya yang besar. Saya disitu bingung, emang apa salahnya? Padahal ketika dance saya mengikuti gerakan dengan baik.

Dan terus berlanjut sampai saya kelas 8 tetap seperti itu, anak lelaki menatap saya lain. Kelas 9 pun begitu, mereka mengatai ‘semangka’ atau apalah, itu semua masih membekas sampai sekarang, dan akhirnya saya sangat takut untuk satu sekolah lagi dengan laki-laki, bayangan saya akan diperhatikan ‘tidak senonoh’ lagi, dan kata-kata ‘semangka’ atau apapun itu masih membayangi saya. Hingga akhirnya saya SMA masuk ke asrama yang mana di asrama itu semuanya wanita, tidak ada pria. Ibu saya bertanya, mau lanjut ke SMA mana, saya saat itu bingung dan saya langsung menyebutkan nama asrama itu. Alasannya hanya karena saya menghindari laki-laki agar tidak dipandang aneh lagi, sebenarnya bukan laki-laki saja, wanita juga. Saya tahu mereka pasti mikir yang tidak-tidak soal dada saya, tapi saya menepis jauh-jauh pikiran itu.

Dan ternyata masuk asrama bukan solusi yang tepat, tapi setidaknya lumayan membantu saya, karena isinya wanita semua jadi tidak terlalu malu untuk memiliki dada yang besar. Namun teman saya bilang kalau ada salah satu teman yang bilang bahwa dada saya adalah hasil grepe-an orang, itu sukses membuat saya mau menangis. Tapi saya diam saja, saya bingung bagaimana menjelaskannya. Yang jelas itu dada saya memang asli besar, harus bagaimana lagi? Bahkan ketika menjemur baju di asrama saya terkadang malu ketika menjemur pakaian dalam, BH. Saya melihat yang lainnya masih kecil, dan saya sudah besar sendiri.

Bahkan dari SMP semenjak saya memakai hijab pun, saya selalu memanjangkan hijab saya, agar tidak menampakan dada saya yang menonjol, saya selalu turunkan hijab saya sampai sekarang, atau saya ikat diujungnya, saya berani menaikan hijab saya ketika saya memakai baju yang longgar, itu pun tidak akan lama, biasanya saya turunkan lagi ketika saya sudah merasa risih. Padahal mungkin tidak ada yang memperhatikan, tapi karena saya dulu sering diperlakukan seperti itu, itu membuat saya terbayang-bayang.

Punya payudara besar membuat saya bingung harus memakai baju apa. Bingung mencari baju yang pas, dan saya mencari baju selonggar mungkin agar payudara saya tidak nonjol. Ya Tuhan, rasanya sulit. Ditambah badan saya lumayan makmur, jadi payudara saya makin terlihat besar saja.

Apakah salah saya punya dada besar?

Saya bilang ke ibu saya bahwa saya terkadang malu punya dada besar, namun ibu saya hanya berkata “Ah, diluar sana banyak orang yang sampe operasi besar-besaran demi payudara besar. Kamu harus bersyukur punya payudara besar” kata-kata itu yang berhasil membuat saya bersyukur memiliki dada besar, walaupun terkadang perkataan orang-orang dan ejekan di masa lalu masih saya ingat dengan jelas.

Terima kasih atas pertanyaannya, akhirnya saya bisa bercerita soal ini. Karena sebelumnya saya diam-diam saja soal ini, cukup saya saja. Sekali lagi, maaf kalau berantakan.

  • Sakit punggung. Payudara yang besar itu beban yang lumayan lho, apalagi ketika hamil dan menyusui.
  • Cari ukuran Bra sulit sekali. kalo ada yang gede, semuanya maternity alias bra untuk menyusui atau ibu-ibu hamil. Itupun ukuran asia susah sekali cari yang diatas cup B, gimana para minoritas pemilik cup D keatas :(. Kalo nggak sibuk ubek-ubek online nyari ukuran sisa ekspor, di mall bisa beli yang merk premium, kira2 satu bra minimal 500–600ribu lah harganya.
  • Nggak bisa santai pergi-pergi cuma pakai dalaman tanktop yang punya cup busa untuk dalaman yang rasanya lebih nyaman, harus banget pakai bra berkawat yang gerah, bikin sesak napas.
  • Semua pakaian yang dipakai jadi kelihatan seksi. bukannya menyenangkan ini nyebelin banget. salah pake baju aja bisa bikin diliatin orang seharian. Kerah V yg gak rendah aja udah bikin keliatan cleavage, apalagi pake baju yang model wrap atau kimono.
  • Kalau pake baju kemeja berkancing, harus penitiin beberapa bagian antar-kancing. Kalo nggak nanti bisa kelihatan diintip dari samping, Dan harus sedia peniti kemana-mana kalau ada kancing yang menyerah dan copot ketika dipakai.
  • Nggak bisa pakai tas selempang, karena nanti semua mata akan menuju ke daeah situ yang makin jelas.
  • Sesak napas kalau pake safetybelt. Udahlah harus pakai bra berkawat dan berbusa cukup tebal kalau pergi kemana-mana, waktu pakai safetybelt makin sesak napas.
  • Waktu hamil deg-degan takut ukuran bra makin nambah banyak sepanjang proses kehamilan sampai menyusui nanti. Belom hamil aja udah susah payah cari ukuran bra yang muat, apalagi nanti kalo makin besar?
  • Beli baju yang pertama dicek adalah lingkar dada. mau badan kecil ataupun besar, kalo dadanya gak cukup ya wasalam!
  • Gampang banget kena pelecehan seksual yang sok “nggak sengaja kesenggol dadanya”. kalo desak-desakan di kendaraan umum rasanya pengen ditutupin pake tas ransel aja.